Kajian Kebudayaan Manusia Zaman Modern

Nama             : Ratih Amalia

Kelas             : 1I DO 1

NPM               : 36412037

 

Kebudayaan Manusia Zaman Modern

Pengertian Masyarakat Modern
Apakah yang dimaksud dengan masyarakat modern ? masyarakat modern adalah masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban dunia masa kini. Masyarakat modern relatif bebas dari kekuasaan adat-istiadat lama. Karena mengalami perubahan dalam perkembangan zaman dewasa ini. Perubahan-Perubahan itu terjadi sebagai akibat masuknya pengaruh kebudayaan dari luar yang membawa kemajuan terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam mencapai kemajuan itu masyarakat modern berusaha agar mereka mempunyai pendidikan yang cukup tinggi dan berusaha agar mereka selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi seimbang dengan kemajuan di bidang lainnya seperti ekonomi, politik, hukum, dan sebagainya.

Bagi negara-negara sedang berkembang seperti halnya Indonesia. Pada umumnya masyarakat modern ini disebut juga masyarakat perkotaan atau masyarakat kota.
Pengertian kota secara sosiologi terletak pada sifat dan ciri kehidupannya dan bukan ditentukan oleh menetapnya sejumlah penduduk di suatu wilayah perkotaan. Dari pengertian di atas, dapat diartikan bahwa tidak semua warga masyarakat kota dapat disebut masyarakat modern, sebab banyak orang kota yang tidak mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan peradaban dunia masa kini, misalnya gelandangan atau orang yang tidak jelas pekerjaan dan tempat tinggal.

Faktor-faktor yang Mendorong Perubahan Masyarakat Menjadi Masyarakat yang Modern

1.         Perkembangan ilmu

2.         Perkembangan teknologi

3.         Perkembangan industri

4.         Perkembangan ekonomi

Gejala-gejala Modernisasi

1. Bidang IPTEK

Gejala Modernisasi di bidang IPTEK ditandai dengan adanya penemuan dan pembaharuan unsur teknologi baru yang dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat.

2. Bidang Ekonomi

Gejala Modernisasi di bidang Ekonomi ialah meningkatnya produktivitas ekonomi dan efisiensi sumber daya yang tersedia, serta pemeanfaatan SDA yang memperhatikan kelestarian alam sekitar.

3. Bidang Politik dan Idiologi

Pada bidang ini, gejala modern ditandai dengan adanya system pemerintahan perwakilan yang demokratis, pemerintah yang diawasi dan dibatasi kekuasaanya, dihormati hak-hak asasinya serta dijaminnya hak-hak sosial.

4. Bidang Agama dan Kepercayaan

Gejala Modernisasi di bidang Agama dan Kepercayaan ditandai dengan adanya pengembangan nalar (rasio) dan kebahagiaan kebendaan (materi), yang pada akhirnya akan menimbulkan paham sekularisasi dan sekularisme.

 

CIRI CIRI KHAS MANUSIA MODERN

1. Humanisme

Istilah ini sebetulnya luas sekali, tetapi secara singkat kami simpulkan sebagai suatu pandangan hidup yang berpusatkan pada diri manusia sendiri. Ini merupakan agama, tetapi agama yang tanpa Allah. Di antara sekian banyak kontributor terhadap pandangan humanisme, ada semacam keseragaman sebagai berikut:

– Manusia tidak rusak akibat dosa sejak lahir.

– Tujuan hidup adalah hidup itu sendiri sekarang bukan di akhirat.

– Dengan akal manusia dapat meningkatkan kehidupan yang baik.

– Kondisi utama untuk mencapai kemajuan hidup ialah melepaskan diri dari ikatan tahyul dan tekanan otoritas.

2. Naturalisme

Naturalisme ialah pandangan hidup yang menganggap bahwa alam semesta adalah suatu sistem tertutup yang saling berinteraksi, tanpa campur tangan dari yang supranatural. Bagaimana bisa mengerti gejala alam dan proses kehidupan di dalamnya? Satu-satunya jalan ialah melalui sains, hanya sains yang bisa memberikan gambaran tentang realita yang sesungguhnya. Di dalam kaitan dengan teologia Kristen, hal ini berarti apabila terjadi data-data di dalam Alkitab yang bertentangan dengan sains (atau sepertinya sains), misalnya: geologi, astronomi, dan khususnya biologi, maka pasti Alkitablah yang salah. Pada hakekatnya pengikut naturalisme sudah mempunyai presuposisi bahwa hal-hal yang supranatural itu tidak ada.

3. Ateisme Praktis

Ateisme praktis berbeda dengan ateisme dalam hal bahwa seorang ateis bukan hanya orang yang tidak beragama, bahkan dengan gamblang menyerang keberadaan Allah. Akibat pengaruh deisme,3 dan yang lebih populer belakangan ini yaitu agnostisisme, maka ateisme sebetulnya tidak terlalu popular lagi. Yang lebih banyak ialah ateisme praktis, mereka mungkin beragama, tetapi gaya hidupnya sangat sekuler, keberadaan Allah dengan segala firman yang harus dilaksanakan manusia secara praktis tidak ada hubungan apa-apa dengan dirinya. Ateis praktis tidak menyangkali Allah, namun di dalam setiap usaha mereka sebetulnya berpusat pada dirinya sendiri, mereka tidak mengenal kehidupan doa yang merupakan pengakuan kebutuhan manusia untuk bersandar kepada Allah. Pandangan ini sebetulnya banyak menyusup ke dalam gereja, khususnya di dalam negara Indonesia yang menganjurkan penduduknya untuk beragama tersebut.

4. Pragmatisme

Salah satu problem yang terbesar dari manusia ialah hilangnya konsep “truth” (kebenaran). Dahulu manusia berpikir bahwa ada suatu kebenaran mutlak yang menjadi standard kehidupan. Namun sejak pragmatisme dipopulerkan oleh William James, orang sekarang menganggap bahwa kebenaran ialah sesuatu yang bisa membawa hasil nyata (truth is what works). Dengan gagasan ini satu-satunya ujian bagi kebenaran ialah konsekuensi praktisnya, dengan demikian kebenaran menjadi relatif. Kalau diterapkan dalam agama berarti ajaran-ajaran atau aspek-aspek dalam agama tidak bernilai pada dirinya sendiri melainkan pada akibat moral dan psikologisnya. Pandangan ini mempunyai aspek kebenaran di dalamnya, terkadang kita terpancang pada kata-kata atau teori-teori kebenaran tanpa memikirkan penerapannya. Namun perlu diperhatikan bahwa suatu kebenaran itu biasanya membawa hasil, tetapi sesuatu yang membawa hasil belum tentu merupakan kebenaran.

5. Subyektivisme

Sebagaimana sudah kami singgung di bagian sebelumnya, akibat dari aksistensialisme dan juga yang lebih belakangan yaitu pragmatisme; di mana kebenaran yang universal itu dianggap tidak ada, maka manusia menjadi subyektif sekali di dalam menilai segala sesuatu. Pandangan ini dapat dikatakan merupakan suatu usaha untuk mengerti segala sesuatu dari segi si pelaku itu sendiri, bukan apa yang dikatakan orang lain, atau tradisi, atau ajaran agama sekalipun. Setiap orang adalah unik dalam keberadaannya, bahwa dirinyalah yang berpikir, mempertimbangkan dan memutuskan untuk masa depannya sendiri. Pandangan ini sebetulnya merupakan reaksi terhadap tata masyarakat modern yang cenderung bersifat massal, baik di bidang industri, teknologi, politik dan birokrasi, sehingga seolah-olah pandangan dari nilai pribadi itu ditelan dalam sistem tersebut.

6. Nihilisme

Akibat paling fatal dalam cara berpikir manusia modern ialah nihilisme. Ini merupakan konsekuensi daripada pilihan manusia sendiri yang tidak mau lagi mengakui keberadaan Allah, kebenaran yang mutlak, dan pemusatan pada diri manusia sendiri. Sehingga akhirnya manusia merasa dirinya tidak lagi mempunyai makna hidup (meaninglessness). Di antara para filsuf, Nietzsche dapat dikatakan sebagai Bapa Nihilisme, dan hidup secara konsisten dengan pandangan hidupnya itu. Dia mengatakan kalau tidak ada Allah, tidak ada agama berarti tidak perlu juga ada norma moral. Setiap orang menciptakan arti hidupnya sendiri, dan menentukan sendiri apa yang baik dan tidak baik bagi dirinya. Sayang sekali, sebagai seorang mahasiswa teologia yang brilian di Bonn, dia harus mengakhiri hidupnya dalam kefrustrasian dan menjadi orang yang kurang waras mentalnya.

PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODERN

Dalam berbagai kemajuan teknologi masyarakat modern juga mengalami berbagai problematika seperti :

1. Semua kemajuan teknologi menuntut pengorbanan, yakni dari satu sisi teknologi  memberi nilai tambah, tapi pada sisi lain dapat mengurangi

2. nilai nilai manusia yang tradisional, misalnya harus dikorbankan demi efisiensi

3. Semua kemajuan teknologi lebih banyak menimbulkan masalah ketimbang memecahkannnya.

4. efek negatif teknologi dapat dipisahkan dari efek positifnya teknologi tidak pernah netral. Efek negatif dan positif terjadi serenak dan tidak terpisahkan

5. Semua penemu teknologi mempunya efek yang tidak terduga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s