Kajian Kebudayaan Manusia Zaman Prasejarah

Nama  : Ratih Amalia

NPM    : 36412037

Kelas  : 1iDO1

Jaman Prasejarah berdasarkan Arkeologi

Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan masa lampau melalui benda-benda artefak. Dari hasil penelitian para ahli arkeologi, maka tabir kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia dapat diketahui. Berdasarkan penggalian arkeologi maka prasejarah dapat dibagi menjadi 2 zaman yaitu: (1) zaman batu, dan (2) zaman logam.

1.    Zaman Batu

Disebut zaman batu karena hasil-hasil kebudayaan pada masa itu sebagian besar terbuat dari batu, mulai dari yang sedernaha dan kasar sampai pada yang baik dan halus. Perbedaan itu merupakan gambaran usia peralatan tersebut. Semakin sederhana dan kasar, maka peralatan itu dikatakan berasal dari zaman yang lebih tua, dan sebaliknya. Zaman batu sendiri dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:

(1) zaman batu tua (paleolitikum),

(2) zaman batu tengah (mesolitikum),

(3) zaman batu muda (neolitikum).

(4) Di samping ketiga zaman batu itu, juga dikenal zaman batu besar (megalitikum).

(1)  zaman batu tua (paleolitikum)

Beberapa hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum, di antaranya kapak genggam, kapak perimbas, monofacial, alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah dikerjakan kedua sisinya.

Alat-alat ini tidak dapat digolongkan ke dalam kebudayaan batu teras dll. Alat-alat ini dikerjakan secara sederhana dan masih sangat kasar. Bahkan, tidak jarang yang hanya berupa pecahan batu.

Contoh hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum adalah flake atau alat-alat serpih. Hasil kebudayaan ini banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama di Sangiran (Jawa Tengah) dan Cebbenge (Sulawesi Selatan). Flake memiliki fungsi yang besar, terutama untuk mengelupas kulit umbi-umbian dan kulit hewan. Perhatikan salah satu contoh flake yang ditemukan di Sangiran dan Cebbenge.

Pada Zaman Paleolitikum, di samping ditemukan hasilhasil kebudayaan, juga ditemukan beberapa peninggalan, seperti tengkorak (2 buah), fragmen kecil dari rahang bawah kanan, dan tulang paha (6 buah) yang diperkirakan dari jenis manusia. Selama masa paleolitikum tengah, jenis manusia itu tidak banyak mengalami perubahan secara fisik. Pithecanthropus Erectus adalah nenek moyang dari Manusia Solo (Homo Soloensis). Persoalan yang agak aneh karena Pithecanthropus memiliki dahi yang sangat sempit, busur alis mata yang tebal, otak yang kecil, rahang yang besar, dan geraham yang kokoh. Di samping ini adalah salah tengkorak Homo Soloensis yang ditemukan oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan von Konigwald di Ngandong pada tahun 1936-1941.

(2)  zaman batu tengah (mesolitikum)

Pada Zaman Mesolitikum terdapat tiga macam kebudayaan yang berbeda satu sama lain, yaitu kebuadayaan: (1) Bascon-Hoabin, (2) Toale, dan (3) Sampung. Ketiga kebudayaan itu diperkirakan datang di Indonesia hamper bersamaan waktunya. Kebudayaan Bascon-Hoabin ditemukan dalam goa-goa dan bukit-bukit kerang di Indo Cina, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur.

1. Ciri zaman Mesolithikum:

a. Nomaden dan masih melakukan food gathering (mengumpulkan makanan)

b. Alat-alat yang dihasilkan nyaris sama dengan zaman palaeolithikum yakni masih        merupakan alat-alat batu kasar.

c. Ditemukannya bukit-bukit kerang di pinggir pantai yang disebut Kjoken Mondinger (sampah dapur)

d.  Alat-alat zaman mesolithikum antara lain: Kapak genggam (Pebble), Kapak pendek (hache Courte) Pipisan (batu-batu penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah. Alat-alat diatas banyak ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Suawesi, Flores.

e. Alat-alat kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua Lawa Sampung, Jawa Timur yang disebut Abris Sous Roche antara lain: Flakes (Alat serpih),ujung mata panah, pipisan, kapak persegi dan alat-alat dari tulang.

2. Tiga bagian penting kebudayaan Mesolithikum:

a. Pebble-Culture (alat kebudayaan kapak genggam dari Kjoken Mondinger)

b. Bone-Culture (alat kebudayaan dari Tulang)

c. Flakes Culture (kebudayaan alat serpih dari Abris Saus Roche)

3.  Manusia pendukung kebudayaan Mesolithikum adalah bangsa Papua—Melanosoid. 

 (3)  Zaman Batu Muda (neolithikum)

Ciri utama pada zaman batu Muda adalah alat-alat batu buatan manusia sudah diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Alat-alat yang dihasilkan antara lain:

  1. Kapak persegi, misalnya beliung, pacul, dan torah yang banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan,
  2. Kapak batu (kapak persegi berleher) dari Minahasa,
  3. Perhiasan (gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa,
  4. Pakaian dari kulit kayu
  5. Tembikar (periuk belaga) ditemukan di Sumatera, Jawa, Melolo (Sunda)

Manusia pendukung Neolithikum adalah Austronesia (Austria), Austro-Asia (Khamer-Indocina)

(4)  Zaman Batu Besar (megalithikum)

Zaman ini disebut juga sebagai zaman megalithikum. Hasil kebudayaan Megalithikum, antara lain:

1. Menhir: tugu batu yang dibangun untuk pemujaan terhadap arwah-arwah nenek moyang.

2. Dolmen: meja batu tempat meletakkan sesaji untuk upacara pemujaan roh nenek moyang

3. Sarchopagus/keranda atau peti mati (berbentuk lesung bertutup)

4. Punden berundak: tempat pemujaan bertingkat

5. Kubur batu: peti mati yang terbuat dari batu besar yang dapat dibuka-tutup

6. Arca/patung batu: simbol untuk mengungkapkan kepercayaan mereka.

2. Zaman Logam

B. Zaman Logam

Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkannya. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut acire perdue. Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan.

Zaman logam ini dibagi atas:

a. Zaman tembaga : Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) tidak dikenal istilah zaman tembaga.

b. Zaman perunggu : Pada zaman ini orang sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.

c. Zaman besi : Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.

Manusia zaman Logam lebih maju daripada Batu.

a. Penggunaan logam besi dan mencipta rumah dan perahu.

b. Menjelajah lautan dan meningkatkan kegiatan perdagangan maritim.

c. Perdagangan bermula di pesisiran pantai dan kemudian lebih jauh ke daratan.

d. Pertempatan besar kepada kota pertahanan.

e. Bandar-bandar besar spt. Jericho (8000SM), Catal Hayuk di Turki ( 6500SM).

f. Mengetahui cara mengubur mayat dengan makanan, tembikar dan besi.

Zaman Perunggu dan Zaman Besi.

a. Di Malaysia ada sekitar 500SM

b. Perunggu dihasil – campuran tembaga dan timah.

c. Di Eropah – Perunggu mulai digunakan sekitar 2300SM – 700SM.

d. Di Asia Tenggara – Zaman Logam 1000SM – 1500SM di Dongson, Vietnam.

Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman sejarah.

  1. 1.    Zaman Prasejarah

Zaman prasejarah disebut juga zaman praaksara. Zaman prasejarah dapat diartikan zaman atau masa ketika manusia belummengenal tulisan atau belum ada penemuan peninggalan berupa tulisan pada zaman tersebut di suatu kawasan. Zaman prasejarah juga sering disebut zaman Nirleka, artinya zaman simana manusia tidak mengenal tulisan.

Indonesia memasuki zaman prasejarah kira-kira pada awal abad ke-5. Catatan angka tahun tertua diketahui dari batu-batu tertulis yang terdapat disekitar aliran sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Berita tertulis yang mengawali sejarah Indonesia tentang kerajaan Kutai dan para penguasanya.

Zama Kuerter ini merupakan zaman yang terpenting karena kehidupan manusia mulai ada. Zaman ini dibagi menjadi:

  1. Kala Pleistosen (Diluvium/Zaman Es/Glasial), Pada zaman ini dari kutub utara mencair hingga menutupi sebagian eropa utara, asia utara, dan amerika utara. Pada zaman ini muncul manusia purba yang disebut Homo Erectus. Di zaman ini juga hidup binatang sejenis Stegodon, Leptodos, Hippopotamus, dan Gibbonepi Machiorodus.
  2. Kala Holosen (Aluvium), pada zaman inilah hidup nenek moyang umat manusia yang disebut Homo Sapiens (Manusia cerdas) dan Homo Recens (Manusia bijaksana).
  1. 2.    Jenis- jenis Manusia Purba di Indonesia

Manusia Purba adalah manusia yang hidup pada zaman prasejarah. Jenis-jenis manusia purba di Indonesia, diperoleh dari sumber berupa hasil dari penggalian fosil dan artefak antara lain:

  1. Meghanthropus Palaeo Javanicus (manusia raksasa dari Jawa) adalah jenis manusia purba yang paling tua. Fosil ini ditemukan pada tahun 1936 dan 1941 di daerah Sangiran (Surakarta). Makhluk ini berbadan besar dan diduga lebih banyak memkan jenis tumbuhan.
  2. Pithecanthropus, yang termasuk Pithecanthropus yaitu:
  • Pithecanthropus Erectus, artinya manusia kera yang berjalan tegak. Fosilnya ditemukan di Trinil (tepi Bengawan Solo) pada tahun 1890 oleh Eugene Dubois.
  • Pithecanthropus Robustus, artinya manusia kera yang besar dan kuat tubuhnya. Fosilnya ditemukan di lembah Bengawan Solo pada tahun 1936 oleh G.H.R.Von Koeningswald dan F.Weidenreich.
  • Pithecanthropus Mojokertensis, artinya manusia kera dari mojokerto. Fosilnya ditemukan di Perning (Mojokerto) pada tahun 1936 oleh 3 orang yaitu: Duyfjes, G.H.R.Von Koeningswald dan Cokro Handoyo.
  1. Homo adalah jenis manusia purba yang menunjukan sifat-sifat paling mirip dengan manusia sekarang.
  1. 3.    Kebudayaan

Kebudayaan (culture) adalah suatu komponen penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya struktur social. Secara sederhana kebudayaan dapat diartikan sebagai suatu cara hidup. Cara hidup atau pandangan hidup ini meliputi cara berfikir, cara berencana, dan cara bertindak, disamping segala hasil karya nyata yang dianggap berguna, benar dan patut dipatuhi oleh anggota-anggota masyarakat atas kesepakatan bersama.

Kebudayaan berasal dari kata Sansekerta Buddhayah ialah bentuk jamak dari Budhi yang berarti budi atau akal. Demikian, kebudayaan itu dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal dan sebagai keseluruhan gagasan dan karya, yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. (Koentiaraningrat.1984 : 45). Sedangkan menurut Selo Soemarjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil, karya, rasa, dan cipta masyarakat. Kebudayaan yang berfungsi mengatur manusia agar dapat memahami bagaimana seharusnya manusia bertingkah laku, berbuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam masyarakat.

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. (E.B.Taylor,1871:175)

  1. 4.    Sistem Peralatan dan Perlengkapan Hidup Manusia Purba

Kehidupan manusia pada zaman prasejarah masa berburu dan meramu) memiliki tahap perkembangan, yaitu dari cara hidup nomaden, semi sedenter sampai hidup menetap. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil antara 20-50 orang atau kelompok. Adapun peralatan yang dipergunakan pada masa ini adalah peralatan yang terbuat dari:

  1. Batu. Misalnya kapak persegi, kapak perimbas, kapak genggam, gurdi, pisau, dan tombak.
  2. Tulang digunakan sebagai alat tusuk. Misalnya belati, sudip, mata kail, dan penusuk.
  3. Tanduk digunakan untuk mengrek umbi dan keladi dari dalam tanah.

Pada masa bercocok tanam masyarakat telah hidup menetap dalam perkampungan-perkampungan bersama dan telah mengenal system bercocok tanam. Adapun jenis tanaman yang dibudidayakan seperti keladi, labu air, ubi jalar, dan padi gogo, sukun, pisang, kelapa, durian, nangka, duku, dan rambutan dengan menggunakan kapak persegi, kapak lonjong, gurdi, dan pisau. Sedangkan ketika masa perundagian memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menggunakan peralatan seperti kapak corong atau kapak sepatu.

  1. 5.    Sistem Mata Pencaharian

Masyarakat pada zaman prasejarah memiliki mata pencaharian berburu dan meramu. Berburu adalah kegiatan untuk memperoleh bahan makanan dengan cara berburu, memasang perangkap, dan menjerat binatang. Meramu adalah kegiatan untuk mendapatkan bahan makanan dengan cara mengumpulkan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan pada masa bercocok tanam masyarakat telah mengenal perdagangan dengan system barter barang. Barang dagangan mereka antara lain sebagai ramuan hasil hutan, hasil pertanian, hasil kerajinan seperti perhiasan, garam atau ikan laut.

Dalam bidang peternakan masyarakat bercocok tanam juga mampu menjinakan binatang dan beternak antara lain babi, kerbau, anjing, dan ayam. Selain itu dikenal juga pelayaran dengan menggunakan sampan yang sederhana menelusuri pantai untuk mencari sumber bahan makanan. Pada masa perundagian mata pencaharian tetap adalah pertanian serta pelayaran.

  1. 6.    Sistem Pengetahuan

Pengetahuan yang dimiliki masyarakat prasejarah pada masa berburu dan meramu masih terbatas karena kehidupannya pun masih sederhana, masih tergantung pada apa yang disediakan alam, mereka hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan makanannya saja. Jika dilihat pada masa bercocok tanam masyarakat sudah mulai mengenal pengetahuan astronomi dan navogasi seperti angin buritan, angin sekal serta teknologi pembuatan kapal, karena masyarakat prasejarah pada masa itu sebagai pelaut.

  1. 7.    Sistem Bahasa

Pada masa berburu dan meramu diduga hidup manusia jenis homo erectus dan homo wajakensis yang sudah mulai mampu menggunakan atau berbiacara dan mengingat sesuatu.  Bahasa yang digunakan masyarakan prasejarah sampai dengan saat ini belum diketahui secara pasti. Pada masa hidup bangsa australomelanesid tidak diketahui bahasa apa yang mereka pergunakan untuk berkomunikasi. Para ahli menduga bahasa mereka serumpun mewarisi bahasa naisadha yang dipakai oleh bangsa proto australoid yang pernah tinggal di India yang merupakan pendahulu bangs australomelanesid yang tinggal di kepulauan nusantara. Jadi secara umum bahasa yang digunakan pleh masyarakat prasejarah adalah bahasa melayu Austronesia (belim mengenal tulisan).

  1. 8.    Sistem Kesenian

Pada masa ini manusia telah mengenal seni lukis yang dituangkan pada dinding gua. Bahan untuk membuat anyaman dibuat dari bambu, rumput, dan rotan dengan teknik anyaman dan pola geometrik. Selain itu, masyarakat ini sudah mengenal pakaian yang dibuat dengan menggunakan tenunan serat kulit kayu. Lain halnya pada masa perundagian masyarakat telah mengenal permainan wayang, pembuatan gamelan, teknik membatik serta bentuk gerabah yang dibuat dengan teknik yang lebih maju dibandingkan dengan gerabah zaman bercocok tanam.

  1. 9.    Sistem Kemasyarakatan

Kehidupan masyarakat berburu dan meramu ini sangat sederhana tapi mereka telah mengenal system pembagian kerja gotong-royong, koordinasi dalam pekerjaan terlihat dari upaya memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu melalui berburu dengan sekelompok orang.

Karena populasi pendidik semakin lama semakin bertambah, masyarakat bercocok tanam sudah menetap di perkampungan-perkampungan. Ternyata mereka mengenal gotong-royong dalam kebersamaan untuk menebang hutan, membakar semak, menabur benih, memetik hasil lading, mendirikan ruman dan menyelenggarakan upacara. Selain itu, dalam kehidupan masyarakat bercocok tanam sudah terlihat peran pemimpin serta sudah terbentuknya organisasi yaitu desa guna mewujudkan suatu masyarakat yang menempati suatu territorial tertentu. Pada masa berikutnya selain mengenal suatu lembaga yang berupa keluarga, desa juga mulai mengenal system kekerabatan Patrilineal yaitu susunan keluarga yang menarik garis keturunan hanya dari pihak ayah atau laki-laki dan system Matrilineal yaitu susunan keluarga yang menarik garis keturunan hanya dari pihak ibu atau wanita.

10. Sistem Kepercayaan

Kepercayaan yang dimiliki pada masa prasejarah merupakan awal dari kepercayaan yang ada pada masa-masa berikutnya. Kepercayaan masyarakat berburu dan meramu terdapat kekuatan alam yang abadi di sekelilingnya di buktikan dengan penemuan kuburan serta penguburan jenazah di Gua Lawa (sampungan) Gua Sodong, Bukit Kerang di Sumatra Utara. Dengan penemuan kuburan itu menunjukan bahwa masyarakat prasejarah telah memiliki anggapan tentang hidup sesudah mati dan memberikan penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. Pada masa selanjutnya masyarakat telah mengenal dua macam penguburan yaitu:

Pertama, Penguburan Primer(langsung). Dalam penguburan langsung jenazah orang yang sudah meninggal dikuburkan sekali, atau langsung dikubur di dalam tanah atau diletakkan dalam sebuah wadah kemudian dikuburkan dalam tanah dengan upacara penguburan. Mayat dibaringkan mengarah ketempat roh atau arwah pada leluhur (misalnya di puncak gunung). Sebagai bekal perjalanan ke dunia roh, disertakan bekal kubur yang terdiri atas berbagai macam barang keperluan sehari-hari, seperti perhiasan, periuk, dan barang-barang lainnya.

Kedua, Penguburan Sekunder(tak langsung). Pada penguburan tak langsung mayat pada mulanya langsung dikuburkan dalam tanah tanpa upacara penguburan. Setelah beberapa waktu hingga tinggal kerangka, kemudian digali, dibersihkan, dan dicuci, terkadang diberi tempayan/sarkopagus atau tanpa wadah dikubur kembali dengan upacara penguburan.

Berdasarkan cara-cara penguburan mayat, masyarakat telah mengenal kepercayaan lain seperti Animisme, Dinamisme, Politeisme, Monoteisme, Fetisisme, Animatisme, Toteisme, dan Mistik. Di samping itu juga terdapat benda-benda sebagai penunjang upacara seperti Menhir (tugu batu yang didirikan untuk upacara penghormatan terhadap nenek moyang), Dolmen (meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada nenek moyang), Sarkopagus (peti jenazah yang terbuat dari batu bulat), Kubur Batu (seperti sarkopagus tetapi terbuat dari papan batu), Punden Berundak (bangunan pemujaan leluhur yang berupa bangunan bertingkat dari bahan batu), Waruga (kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat), Arca, Nekara Perunggu (sebagai pelengkap upacara untuk memohon turunnya hujan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s